Laman

Rabu, 06 Mei 2015

MAKALAH ANEMIA FE

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang


Di era globalisasi ini, anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang paling lazim di dunia.Anemia yang paling umum ditemukan pada masyarakat adalah anemia defisiensi besi. Diperkirakan 25% dari penduduk dunia atau setara dengan 3,5 milyar orang menderita anemia. Estimasi prevalensi secara global sekitar 51% dimana penyakit ini cenderung berlangsung pada negara yang sedang berkembang daripada negara yang telah maju. Terdapat 36% dari perkiraan populasi 3.800 juta orang di negara yang sedang berkembang menderita anemia jenis ini, seangkan prevalensi anemia di negara maju hanya sekitar 8% dari perkiraan populasi dari 1.200 juta orang (Manampiring, 2008).

Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling sering dijumpai baik di klinik maupun di masyarakat.ADB merupakan anemia yang sangat sering di jumpai negara berkembang (Bakta et al, 2009).
Kandungan zat besi dalam tubuh total adalah sekitar 2 gr untuk perempuan dan 6 gr untuk laki-laki. Sekitar 80% zat besi dalam tubuh fungsional terdapat dalam Hb, sisanya terdapat di mioglobin dan enzim yang mengandung zat besi.Simpanan zat besi yang terikat ke feritin, mengandung 15% sampai 20% zat besi dalam tubuh total. Pada orang normal, 33% transferin tersaturasi oleh zat besi sehingga kadar zat besi serum rerata pada laki-laki adalah 120 μg/dl dan pada perempuan 100 μg/dl. Oleh karena itu, kapasitas serum mengikat zat besi (iron binding capacity of serum) total berkisar 300 sampai 350 μg (Robbins, 2007).
Anemia defisiensi besi akibat defisiensi nutrisi merupakan masalah utama  nutrisi yang memiliki prevalensi paling tinggi. Di Amerika Serikat 9% anak yang berumur 1–2 tahun menderita defisiensi besi, 3% menderita anemia defisiensi besi, wanita dewasa 9% menderita defisiensi besi, 2% menderita anemia defisiensi besi. Pada masa pubertas, anak laki-laki 50% mengalami penurunan cadangan besi (Muhammad dan Sianipar, 2005).
Prevalensi defisiensi besi di wanita hamil sangat tinggi, di negara berkembang 55–60% wanita hamil mengalami anemia dengan penyebab dominan defisiensi besi (Muhammad dan Sianipar, 2005).Perempuan hamil merupakan segmen penduduk yang paling rentan anemia defisiensi besi. Di India, Amerika Latin dan Filipina prevalensi anemia defisiensi besi pada perempuan hamil berkisar antara 35% sampai 99%.  Sedangkan di Bali, pada suatu pengunjung puskesmas didapatkan prevalens anemia sebesar 50% dengan 75% anemia disebabkan oleh defisiensi besi. Dalam suatu survei pada 42 desa di Bali yang melibatkan 1684 perempuan hamil didapatkan prevalens anemia defisiensi besi sebesar 46%, sebagian besar derajat anemia ialah ringan. Faktor risiko yang dijumpai adalah tingkat pendidikan dan kepatuhan meminum pil besi (Bakta et al, 2009).
Dampak yang ditimbulkan akibat anemia defisiensi besi sangat kompleks. Menurut Ros dan Horton (1998), anemia defisiensi besi berdampak pada menurunnya kemampuan motorik anak, menurunnya kemampuan kognitif, menurunnya kemampuan mental anak, menurunnya produktivitas kerja pada orang dewasa, yang akhirnya berdampak pada keadaan ekonomi, dan pada wanita hamil akan menyebabkan buruknya persalinan, berat bayi lahir rendah, bayi lahir premature, serta dampak negatif lainnya seperti komplikasi kehamilan dan kelahiran. Akibat lainnya dari anemia defisiensi besi adalah gangguan pertumbuhan, gangguan imunitas, rentan terhadap pengaruh racun dari logam-logam berat, dan seterusnya (Wulansari, 2006).
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis membuat makalah yang berjudul “Anemia Fe” gunanya untuk mengetahui apa itu anemia fe, prevalensi,gejala yang timbul, faktor penyebab, pencegahan, dan penanganan penyakit ini.

B.  Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian anemia fe?
2.    Apa saja penyebab terjadinya anemia fe?
3.    Bagaimana gejala yang timbul akibat anemia fe?
4.    Bagaimana diet yang cocok untuk penderita anemia fe ?
5.    Bagaimana syarat dan tujuan yang di tujukan pada klien yang menjalani diet anemia fe ?
6.    Bagaimana indikasi pemberian makanan untuk klien yang menjalani diet anemia fe ?


C.  Tujuan
1.    Dapat menjelaskan pengertian anemia fe.
2.    Dapat menyebutkan dan menjelaskan penyebab terjadinya anemia fe.
3.    Dapat menyebutkan  gejala yang timbul akibat anemia fe.
4.    Dapat menyebutkan diet yang cocok untuk penderita anemia fe.
5.    Dapat menjelaskan syarat dan tujuan diet anemia fe.
6.    Dapat mnyebutkan indikasi pemberian makanan untuk penderita anemia fe.



                                                              BAB II
                                                         PEMBAHASAN

A.    Pengertian Anemia Fe

Darah berasal dari bahasa yunani yakni hemo, hemato dan haima yang berarti darah.Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga berfungsi sebagai pertahanan tubuh manusia terhadap virus atau bakteri. 
            Darah manusia adalah cairan di dalam tubuh yang berfungsi untuk mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (proteinpengangkut oksigen) dalam sel darah berada dibawah normal eritrosit, kuantitas hemoglobin, dan volume packed red blood cell (hematokrit) per 100 ml darah yang disebabkan karenakekurangan zat besi.Nilai normal Hb pada wanita 12-16 gr/dL, pria 14-18 gr/dL ,anak 10-16 gr/dL dan pada bayi baru lahir 12-24gr/dL.
Di dalam darah terdapat beberapa komponen dan darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume sel darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang disebut plasma darah.
1.         Korpuskula darah terdiri dari:
a)      Eritrosit
Eritrosit berasal dari bahasa Yunani, Erythros yang artinya merah dan Kytos yang artinya seubung. Secara harfiah, eritrosit dapat di artikan sebagai selubung merah. Sel darah merah ini berbentuk cakram atau lempeng bikonkaf, gepeng dengan kedua bagian tengahnya cekung tapi tidak berlubang. Diameter sel sritrosit ini berdiameter 8µm. Ukurannya lebih kecil dari sel-sel tubuh yang lain. yang memberdakan sel darah merah dengan sel tubuh lainnya adalah bahwa sel darah merah memiliki masa aktif. Masa aktif sel eritrosit adalah 120 hari sebelum kemudian di hancurkan. Penghancuran sel darah merah berlangsung di limfa dan hati.
Pembentukan eritrosit berlangsung di dalam sum-sum tulang, terutama sum-sum tulang belakang. Sel pembentuk eritrosit adalah hemositoblas yaitu sel batang myeloid. Setiap harinya ada sekitar 200.000 sel darah merah yang di bentuk dan di rombak. Proses pembentukan eritrosit disebut eritropoisis. Pembentukan eritrosit distimulasi oleh hormon eritropoietin (EPO) yang diproduksi oleh ginjal. Jumlah eritrosit dalam tubuh manusia berbeda antara masing-masing individu. Jumlah eritrosit dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
1.         Jenis Kelamin, manusia laki-laki normal jumlah (konsentrasi) eritrosit mencapai 5,1 – 5,8 juta per mililiter kubik darah. Sedangkan wanita normal 4,3 – 5,2 juta per mililiter kubik darah.
2.         Usia,  orang dewasa memiliki jumlah eritrosit lebih banyak dibanding anak-anak.
3.         Tempat tinggal / ketinggian tempat, orang yang hidup di dataran tinggi cenderung memiliki jumlah eritrosit lebih banyak dari pada mereka yang tinggal di dataran rendah.
Kondisi tubuh seseorang, kesehatan yang terganggu seperti luka atau sakit yang mengeluarkan banyak darah akan menyebabkan jumlah eritrosit dalam darah berkurang.
b)      Trombosit
Trombosit (keping darah) adalah sel-sel berbentuk oval kecil yang dibuat di sumsum tulang. Trombosit membantu dalam proses pembekuan. Ketika pembuluh darah pecah, trombosit berkumpul di daerah dan membantu menutup kebocoran. Trombosit bertahan hidup hanya sekitar 9 hari dalam aliran darah dan secara konstan akan digantikan oleh sel-sel baru.
c)      Leukosit
Leukosit (sel darah putih) memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh kita, Leukosit mempunyai ciri yang khas yaitu dia tidak berwarna dan dapat bergerak secara amoebeid, dan juga dapat menembus dinding kapiler/diapedesis. selain itu di dalam tubuh manusia,sel darah putih ini tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau mikroorganisme penyusup, ksrens itu sel darah leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari system kekebalan tubuh.
Nilai normalnya :

Bayi baru lahir
9000 -30.000 /mm3
Bayi/anak
9000 – 12.000/mm3
Dewasa
4000-10.000/mm3

d)     Plasma Darah

Bagian cairan darah yang membentuk sekitar 5% dari berat badan, merupakan media sirkulasi elemen-elemen darah yang membentuk sel darah merah, sel darah putih, dan sel pembeku darah juga sebagai media transportasi bahan organik dan anorganik dari suatu jaringan atau organ.
Pada penyakit ginjal plasma albumin turun sehingga terdapat kebocoran albumin yang besar melalui glomerulus ginjal. Hampir 90% dari plasma darah terdiri dari air, di samping itu terdapat pula zat-zat lain yang terlarut di dalamnya.
Anemia adalah istilah yang menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit di  bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935). Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 : 256). Dengan demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh dan perubahan patotisiologis yang mendasar yang diuraikan melalui anemnesis yang seksama,  pemeriksaan fisik dan informasi laboratorium. Anemia dalam bahasa yunani tanpa darah adalah penyakit kurang darah yang ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih rendah dibandingkan normal.Jika kadar hemoglobin kurang dari 14g/dl dan eritrosit kurang dari 41%  pada pria , maka pria tersebut dikatakan anemia. Demikian pula  pada wanita , wanita yang memiliki kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37% , maka wanita itu dikatakan anemia.Berikut ini katagori tingkat keparahan pada anemia.
1.      Kadar Hb 10 gram- 8 gram disebut anemia ringan.
2.      Kadar Hb 8 gram -5 gram disebut anemia saedang.
3.      Kadar Hb kurang dari 5 gram disebut anemia berat.
 Karena hemoglobin terdapat dalam sel darah merah,setiap ganguan pembentukan sel darah merah baik ukuran maupun  jumlahnya dapat menyebabkan terjadinya anemia. Ganguan tersebut dapat terjadi ‘’pabrik’’ pembentukan sel (sumsum tulang)maupun ganguan karena kekurangan komponen penting seperti zat besi, asam folat maupun vitamin B 12. Klasifikasi anemia akibat gangguannya:
1.    Anemia defisiensi Besi :
2.    Anemia Megaloblastik
3.    Anemia Aplastik
4.    Anemia Mieloptisik

Klasifikasi anemia berdasarkan ukuran selnya:

1.    Anemia mikrositik : penyebab utamanya yaitu defisiensi besi dan talasemia (gangguan Hb)
2.    Anemia normositik : contohnya yaitu anemia akibat penyakit kronis seperti gangguan ginjal.
3.    Anemia makrositik : penyebab utama yaitu anemia pernisiosa, anemia akibat konsumsi alcohol, dan anemia megaloblastik.
Anemia Gizi adalah kekurangan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang di sebabkan karena kekurangan zat gizi yang di perlukan untuk pembentukan Hb. Anemia terjadi karena kadar hemoglobin ( Hb) dalam darah merah sangat kurang. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga di sebut Anemia kekurangan Zat besi atau Anemia Gizi Besi.
Anemia merupakan masalah medik yang paling sering di jumpai di klinik di seluruh dunia, di samping sebagai masalah kesehatan utama masyarakat, terutama di negara berkembang. Di perkirakan lebih dari 30% penduduk dunia atau 1500 juta orang menderita anemia dengan sebagian besar tinggal di daerah tropik. Pada tahun 2002, anemia defisiensi besi di katakan memiliki faktor konstribusi terpenting untuk beban penyakit global. Salah satu bentuk anemia yang paling sering di jumpai, terutama di daerah tropis atau di daerah dunia ketiga, karena sangat berkaitan erat dengan taraf ekonomi, adalah anemia defisiensi besi, yang akan di bahas mendalam pada tulisan ini.
Anemia ini mengenai lebih dari sepertiga penduduk dunia yang memberikan dampak kesehatan yang sangat merugikan serta dampak sosial yang cukup serius.Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul akibat kosongnya cadangan besi tubuh sehingga penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin berkurang.Kelainan ini di tandai oleh besi serum menurun, TIBC (total iron binding capacity) meningkat, saturasi transferin menurun, feritin serum menurun, pengecatan besi sumsum tulang negatif dan adanya respon terhadap pengobatan dengan preparat besi.
Seperti yang telah di sajikan di atas, anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mengenai negara-negara kaya maupun miskin.Meskipun penyebab terbanyak adalah anemia defisiensi besi, tetapi jarang timbul sebagai penyebab tunggal.Lebih sering timbul bersama-sama dengan beberapa penyakit, seperti malaria, infeksi parasit, kekurangan gizi dan hemoglobinopati.Akibat pentingnya penyakit ini, beberapa negara telah menempuh langkah-langkah untuk mengurangi anemia jenis ini, khususnya pada kelompok-kelompok masyarakat yang paling rentan dan memiliki efek yang sangat merugikan, ibu hamil dan anak-anak.Dalam rangka untuk mengetahui hasil dari langkah intervensi yang diambil tersebut, adekuasi dari strategi yang di terapkan, dan kemajuan yang telah di capai, informasi tentang prevalensi anemia harus di dapatkan.

B.     Penyebab Anemia Fe
Penyerapan zat besi terutama terjadi pada usus halus. Bila tubuh memiliki kelebihan zat besi, maka penyerapan akan diturunkan. Sebaliknya bila tubuh kekurangan zat besi, penyerapan dapat ditingkatkan hingga 5 kali lipat. Zat besi dapat ditemukan pada makanan daging dan sayur-sayuran. Zat besi pada daging lebih mudah diserap daripada nabati atau yang berasal dari sayuran.
Kekurangan zat besi terjadi saat permintaan zat besi tidak dapat dicukupi dengan penyerapan zat besi.
 Penyebab anemia defisiensi besi dapat digolongkan dalam 2 besar, yaitu:
1.         Peningkatan kebutuhan
a.     Kehamilan: Kekurangan zat besi pada wanita hamil sering terjadi, karena peningkatan permintaan zat besi di dalam tubuh. Peningkatan ini dikarenakan jumlah darah meningkat dan zat besi diperlukan untuk perkembangan janin. Dengan demikian cadangan zat besi dalam tubuh tidak mencukupi. Pada wanita hamil umumnya diberikan suplemen zat besi tambahan dengan sebelumnya berkonsultasi dengan dokter.
b.     Anak-anak: Pada anak-anak yang masih dalam pertumbuhan memerlukan zat besi yang lebih tinggi, terutama pada anak usia balita (dibawah 5 tahun).
2.     Berkurangnya asupan atau kehilangan cadangan​
a.      Asupan zat besi yang kurang: Tubuh tidak bisa membuat zat besi dengan sendirinya. Zat besi hanya bisa didapat melalui makanan. Konsumsi makanan rendah zat besi menyebabkan tubuh menglami kekurangan. Bebebrapa makanan yang mengandung banyak zat besi yaitu daging, telur, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan makanan yang ditambahkan zat besi.
b.     Gangguan penyerapan: Gangguan pada usus halus dapat mempengaruhi penyerapan zat besi. Seseorang yang menglami operasi pemotongan usus rentan mengalami kekurangan zat besi. 
c.     Kehilangan darah: Kehilangan darah menyebabkan banyak hemoglobin dan zat besi yang terbuang. Umumnya terjadi perdarahan yang teru menerus dalam jangka waktu laama (kronis). Perempuan dengan menstruasi yang banyak dan memanjang juga dapat menyebabkan kekurangan zat besi.
Kekurangan zat besi lebih sering dialami pada wanita, anak-anak, vegetarian, dan mereka yang melakukan donor darah rutin. Wanita mengalami menstruasi sehingga berisiko kekurangan zat besi. Anak-anak rentan karena mereka membutuhkan zat besi untuk pertumbuhan dan tidak mendapatkan suplai zat besi yang cukup dari ASI (Air Susu Ibu) atau susu formula. Vegetarian berisiko karena mereka tidak memakan makanan yang kaya zat besi seperti daging. Donor darah menyebabkan berkurangnya cadangan zat besi dalam tubuh sehingga memerlukan tambahan suplemen zat besi.

C.    Gejala yang Timbul Akibat Anemia Fe
Menurut Handayani dan Haribowo (2008), gejala anemia dibagi menjadi tiga golongan besar yaitu sebagai berikut:
1.      Gejala Umum anemia
Gejala anemia disebut juga sebagai sindrom anemia atau Anemic syndrome. Gejala umum anemia atau sindrom anemia adalah gejala yang timbul pada semua jenis Anemia pada kadar hemoglobin yang sudah menurun sedemikian rupa dibawah titik tertentu. Gejala ini timbul karena anoksia organ target dan mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan hemoglobin.Gejala-gejala tersebut apabila diklasifikasikan menurut organ yang terkena adalah:
a.       Sistem Kardiovaskuler: lesu, cepatlelah, palpitasi, takikardi, sesak napas saat beraktivitas, angina pektoris, dan gagal jantung.
b.      Sistem Saraf: sakit kepala, pusing, telinga mendenging, mata
c.       Berkunang-kunang, kelemahan otot, iritabilitas, lesu, serta perasaan dingin pada ekstremitas.
d.      Sistem Urogenital: gangguan haid dan libido menurun.
e.       Epitel: warna pucat pada kulit dan mukosa, elastisitas kulit menurun, serta rambut tipis dan halus.
2.       Gejala Khas Anemia defisiensi besi
Gejala yang khas dijumpai pada defisiensi besi ,tetapi tidak dijumpai pada anemia jenis lain :
b.      Kolionychia : kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh , bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung sehingga mirip seperti sendok.
c.       Atrofi papil lidah : permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang.
d.      Stomatis angularis (cheliosis) : adanya keradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan.
e.       Disfagia: nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring.
f.       Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhloridia.
g.      Pica: keinginan untuk memakan bahan makanan yang tidak lazim, seperti: tanah liat, es,lem, dan lain-lain.
h.      Keilosis :bibir pecah-pecah
i.        Glositis :iritasi lidah
Gejala penyakit dasar yang menjadi penyebab anemia. Gejala ini timbul karena penyakit-penyakit yang mendasari anemia tersebut.Misalnya anemia defisiensi besi yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang berat akan menimbulkan gejala seperti pembesaran parotis dan telapak tangan berwarna kuning seperti jerami.

D.    Diet yang Cocok Untuk Penderita Anemia Fe
AGB dapat dicegah dengan menjalani pola makan sehat dan bervariasi. Pilih bahan pangan yang tinggi akan zat besi, folat, vitamin B12 dan vitamin C. Vitamin B12 bermanfaat untuk melepaskan folat sehingga dapat membantu pembentukan sel darah merah. Sedangkan vitamin C penting dikonsumsi penderita anemia defisiensi besi karena dapat membantu penyerapan zat besi. Selain diet tinggi zat besi, pemulihannya diperlukan tambahan suplemen folat, vitamin B12 serta zat besi. Pemulihan terapi diet yang disertai pemberian suplemen penderita anemia defisiensi besi biasanya akan pulih setelah 6 bulan menjalani terapi.
1.      Meningkatkan Konsumsi Makanan Bergizi.
a.     Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).
b.    Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.
2.      Menghindari makanan yang menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh
a.       Makanan dengan kandungan kalsium yang tinggi seperti susu dan yogurt, Daun kemangi, Daun seledri, Daun mint, Cokelat, Kopi, Buah-buah beri seperti stroberi dan bluberi, Kacang kenari
b.      Daging merah yang tidak berlemak dalam porsi kecil setidaknya 3-4 kali seminggu
c.       Sereal atau roti gandum yang mengandung zat besi
d.       Sayuran hijau segar yang harus dikonsumsi setiap hari
e.       Buah-buahan segar sehabis makan setiap hari

Nilai gizi diit TETP
Nilai Gizi
TETP I
TETP II
Energi (kkal)
2690
3040
Protein (g)
103
120
Lemak (g)
73
98
Karbohidrat (g)
420
420
Kalsium (mg)
700
1400
Besi (mg)
30,2
36
Vitamin A (RE)
2746
2965
Tiamin (mg)
1,5
1,7
Vitamin C (mg)
114
116

Bahan Makanan yang Dianjurkan dan yang Tidak Dianjurkan
Bahan makanan
Dianjurkan
Tidak Dianjurkan
Sumber Karbohidrat
Nasi, mie, roti, macaroni, dan hasil olah tetepung-tepungan lain, seperti cake, tarcis, pudding, dan pastry, dodol, ubi, karbohidrat sederhana seperti gula pasir.
Sumber Protein
Daging sapi, ayam, ikan, telur, susu, dan hasil olah seperti keju dan yoghurt custard dan es krim.
Dimasak dengan banyak minyak atau kelapa/ santan kental.
Sumber Protein Nabati
Semua jenis kacang-kacangan dan hasil olahanya, seperti tempe, tahu, dan pindakas.
Dimasak dengan banyak minyak atau kelapa/ santan kental.
Sayuran
Semua jenis sayuran, terutama jenis B, seperti bayam, buncis, daun singkong, kacang panjang, labu siam dan wortel direbus, dikukus dan ditumis.
Dimasak dengan banyak minyak atau kelapa/ santan kental.
Buah-buahan
Semua jenis buah segar, buah kaleng, buah kering dan jus buah.
Lemak dan minyak
Minyak goring, mentega, margarine, santan encer, salad dressing.
Santan kental
Minuman
Soft drink,  madu, sirup, teh dan kopi encer.
Minuman rendah energy
Bumbu
Bumbu tidak tajam, seperti bawang merah, bawang putih, laos, salam, dan kecap.
Bumbu yang tajam, seperti cabe dan merica

Contoh Menu Sehari TETP II
Pagi
Siang
Malam
Nasi
Nasi
Nasi
Telur dadar
Ikan
Daging empal
Daging semur
Ayam goring
Telur balado
Ketimun + tomat iris
Tempe bacam
Sup sayuran
Susu
Sayur asam
Pisang
Papaya
Pukul 10.00
Pukul 16.00
Pukul 21.00
Bubur kacang hijau
Susu
Telur ½ masak
Susu
-
Formula komersial


E.     Syarat dan Tujuan Diet Anemia Fe
Syarat diet anemia :
1.      Energi sesuai kebutuhan di berikan 2515,356 kkal
2.      Protein tinggi 1,5 gr/kg BB yaitu sebesar 91,5 gram
3.      Lemak sedang diberikan 25% yaitu sebesar 69,871 gram
4.      Karbohidrat sesuai kebutuhan diberikan 380,13 gram
5.      Vitamin dan mineral terytama pemberian Fe, asam folat, dan vit B12 serta vit C
6.      Pemberian makan di sesuaikan dengan kebutuhan pasien
Tujuan diet anemia :
1.      Meningkatkan asupan makanan sumber Fe sehingga tidak terjadi anemia
2.      Mencapai dan mempertahankan tekanan darah normal
3.      Mencapai dan mempertahankan BB dan status gizi yang optimal sehingga tidak terjadi malnutrisi
4.      Memperbaiki pola makan yang salah
5.      Mengurangi/mencegah timbulnya faktor resiko lain/penyakit baru pada saat kehamilan/setelah melahirkan
6.      Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh

F.      Indikasi Pemberian Makanan Diet Anemia Fe
Dalam mengobati anemia defisiensi zat besi, dokter mungkin akan meresepkan multivitamin yang mengandung zat besi.Namun pada umumnya, asupan makanan yang mengandung zat besi yang disertai istirahat cukup akan mengembalikan anemia ke kondisi normal.
Berikut adalah beberapa makanan yang kaya akan zat besi:
1.      Telur
Telur kaya akan semua mineral, termasuk besi, dan vitamin B. Telur ideal dikonsumsi saat sarapan karena mengandung jumlah energi memadai. 
2.      Kangkung
 Kangkung adalah sumber yang sangat baik untuk vitamin A dan vitamin B serta C. Kangkung mengandung jumlah tinggi zat besi, kalsium, dan kalium.
3.      Kismis, Kismis mengandung zat besi yang sangat tinggi. Kismis juga merupakan makanan yang bersifat basa dan dapat membantu mengatasi kondisi asam tubuh.
4.      Jagung
Jagung kaya akan zat besi dan tembaga. Jagung juga menjadi sumber yang baik untuk vitamin A dan C.
5.      Bayam
 Selain zat besi, bayam juga mengandung vitamin A. Bayam harus menjadi bagian diet rutin semua orang.

Tabel Zat besi dalam makanan:
No.
Bahan Makanan
Zat Besi (mg/100 g)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Hati
Daging Sapi
Ikan
Telur Ayam
Kacang-kacangan
Tepung Gandum
Sayuran Hijau Daun
Umbi-umbian
Buah-buahan
Beras
Susu Sapi
6,0 sampai 14,0
2,0 sampai 4,3
0,5 sampai 1,0
2,0 sampai 3,0
1,9 sampai 14,0
1,5 sampai 7,0
0,4 sampai 18,0
0,3 sampai 2,0
0,2 Sampai 4,0
0,5 sampai 0,8
0,1 sampai 0,4

Berikut adalah makanan yang dilarang bagi penederita anemia yang harus di  ketahui:
1.         Makanan yang mengandung lemak jenuh. Lemak jenuh di bedakan menjadi lemak jenuh alami seperti daging sapi dan kambing, kulit ayam, dan juga terdapat dalam produk olahan yang terbuat dari susu, seperti keju, roti dan yogurt. Lemak jenuh buatan terdapat pada produk olahan makanan yang di goreng atau di bakar menggunakan minyak nabati, seperti nasi goreng, pisang goreng, ayam bakar, dan sate.
2.       Makanan yang mengandung lemak trans dan terhidrogenasi. Lemak trans adalah lemak yang didapat dengan memadatkan minyak cair dengan gas hidrogen dalam proses yang disebut dengan hidrogenisasi. Salah satu contoh produk yang mengalami proses ini yaitu margarin. Jadi semua makanan yang salah satu bahannya adalah margarin mengandung lemak trans seperti biskuit, kue-kue kering, kue cake, roti, potato chips, corn chips, pop corn, dan martabak.
3.       Makanan cepat saji terutama makanan yang digoreng, misalnya fried chicken, kentang goreng dll.





BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (proteinpengangkut oksigen) dalam sel darah berada dibawah normal eritrosit, kuantitas hemoglobin, dan volume packed red blood cell (hematokrit) per 100 ml darah yang disebabkan karenakekurangan zat besi. Anemia Gizi adalah kekurangan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang di sebabkan karena kekurangan zat gizi yang di perlukan untuk pembentukan Hb. Anemia terjadi karena kadar hemoglobin ( Hb) dalam darah merah sangat kurang. Anemia defisiensi besi memberikan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Dengan di lakukan pencegahan masyarakat dapat terhindar dari anemia ini. Apabila sudah terjadi anemia defisiensi besi, maka dapat melakukan diet kaya akan zat besi, seperti hati, jantung, kuning telur, kerang, ragi, kacang-kacangan dan buah-buahan kering tertentu yang mengandung kadar zat besi yang cukup.

B.     Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk lebih menyempurnakan makalah ini, agar makalah ini dapat lebih sempurna dan menjadi pedoman untuk kita semua.
Daftar Pustaka
Soebroto, Ikhsan.2010.Cara Mudah Mengatasi Problem Anemia.Yogyakarta: Perdana.
Angela.2013.Anemia Defisiensi Besi.( http://angelangeljs.blogspot.com/2013/05/anemia-defisiensi-besi.html diakses 20 November 2014).
Sopiandi,Yopi.2013.Makalah Anemia.( http://www.academia.edu/7191273/makalah_anemia, diakses 5 November 2014).
Uphe,Ulfah,.2013.Anemia Defisiensi Besi.(http://www.kerjanya.net/faq/4477-anemia-defisiensi-besi.html, diakses 6 November 2014)


4 komentar:

SESUDAH BACA,TOLONG DI KOMENTAR!!
AFTER READING,THE COMMENTARY!!
INGIN MENGCOPY (TINGGALKAN KOMENTAR DULU) :) :D