BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang

Di
era globalisasi ini, anemia defisiensi zat besi merupakan masalah gizi yang
paling lazim di dunia.Anemia yang paling umum ditemukan pada masyarakat adalah
anemia defisiensi besi. Diperkirakan 25% dari penduduk dunia atau setara dengan
3,5 milyar orang menderita anemia. Estimasi prevalensi secara global sekitar
51% dimana penyakit ini cenderung berlangsung pada negara yang sedang
berkembang daripada negara yang telah maju. Terdapat 36% dari perkiraan
populasi 3.800 juta orang di negara yang sedang berkembang menderita anemia
jenis ini, seangkan prevalensi anemia di negara maju hanya sekitar 8% dari
perkiraan populasi dari 1.200 juta orang (Manampiring, 2008).
Anemia defisiensi besi merupakan
jenis anemia yang paling sering dijumpai baik di klinik maupun di
masyarakat.ADB merupakan anemia yang sangat sering di jumpai negara berkembang
(Bakta et al, 2009).
Kandungan zat besi dalam tubuh total
adalah sekitar 2 gr untuk perempuan dan 6 gr untuk laki-laki. Sekitar 80% zat
besi dalam tubuh fungsional terdapat dalam Hb, sisanya terdapat di mioglobin
dan enzim yang mengandung zat besi.Simpanan zat besi yang terikat ke feritin,
mengandung 15% sampai 20% zat besi dalam tubuh total. Pada orang normal, 33%
transferin tersaturasi oleh zat besi sehingga kadar zat besi serum rerata pada
laki-laki adalah 120 μg/dl dan pada perempuan 100 μg/dl. Oleh karena itu,
kapasitas serum mengikat zat besi (iron binding capacity of serum) total
berkisar 300 sampai 350 μg (Robbins, 2007).
Anemia defisiensi besi akibat
defisiensi nutrisi merupakan masalah utama nutrisi yang memiliki
prevalensi paling tinggi. Di Amerika Serikat 9% anak yang berumur 1–2 tahun
menderita defisiensi besi, 3% menderita anemia defisiensi besi, wanita dewasa
9% menderita defisiensi besi, 2% menderita anemia defisiensi besi. Pada masa
pubertas, anak laki-laki 50% mengalami penurunan cadangan besi (Muhammad dan Sianipar,
2005).
Prevalensi defisiensi besi di wanita
hamil sangat tinggi, di negara berkembang 55–60% wanita hamil mengalami anemia
dengan penyebab dominan defisiensi besi (Muhammad dan Sianipar, 2005).Perempuan
hamil merupakan segmen penduduk yang paling rentan anemia defisiensi besi. Di
India, Amerika Latin dan Filipina prevalensi anemia defisiensi besi pada
perempuan hamil berkisar antara 35% sampai 99%. Sedangkan di Bali,
pada suatu pengunjung puskesmas didapatkan prevalens anemia sebesar 50% dengan
75% anemia disebabkan oleh defisiensi besi. Dalam suatu survei pada 42 desa di
Bali yang melibatkan 1684 perempuan hamil didapatkan prevalens anemia
defisiensi besi sebesar 46%, sebagian besar derajat anemia ialah ringan. Faktor
risiko yang dijumpai adalah tingkat pendidikan dan kepatuhan meminum pil besi
(Bakta et al, 2009).
Dampak yang ditimbulkan akibat
anemia defisiensi besi sangat kompleks. Menurut Ros dan Horton (1998), anemia
defisiensi besi berdampak pada menurunnya kemampuan motorik anak, menurunnya kemampuan
kognitif, menurunnya kemampuan mental anak, menurunnya produktivitas kerja pada
orang dewasa, yang akhirnya berdampak pada keadaan ekonomi, dan pada wanita
hamil akan menyebabkan buruknya persalinan, berat bayi lahir rendah, bayi lahir
premature, serta dampak negatif lainnya seperti komplikasi kehamilan dan
kelahiran. Akibat lainnya dari anemia defisiensi besi adalah gangguan
pertumbuhan, gangguan imunitas, rentan terhadap pengaruh racun dari logam-logam
berat, dan seterusnya (Wulansari, 2006).
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis membuat
makalah yang berjudul “Anemia Fe” gunanya untuk mengetahui apa itu anemia fe,
prevalensi,gejala yang timbul, faktor penyebab, pencegahan, dan penanganan
penyakit ini.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian anemia fe?
2. Apa
saja penyebab terjadinya anemia
fe?
3. Bagaimana
gejala yang timbul akibat anemia
fe?
4. Bagaimana
diet yang cocok untuk penderita anemia fe ?
5. Bagaimana
syarat dan tujuan yang di tujukan pada klien yang
menjalani diet anemia fe ?
6. Bagaimana indikasi pemberian makanan untuk klien yang
menjalani diet anemia fe ?
C.
Tujuan
1.
Dapat menjelaskan pengertian
anemia fe.
2. Dapat
menyebutkan dan menjelaskan penyebab terjadinya anemia fe.
3. Dapat
menyebutkan gejala yang timbul akibat anemia fe.
4. Dapat
menyebutkan diet yang cocok untuk penderita anemia fe.
5. Dapat
menjelaskan syarat dan tujuan diet anemia fe.
6. Dapat
mnyebutkan indikasi pemberian makanan untuk penderita anemia fe.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Anemia Fe
Darah
berasal dari bahasa yunani yakni hemo, hemato dan haima yang berarti
darah.Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali
tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan
oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga
berfungsi sebagai pertahanan tubuh manusia terhadap virus atau bakteri.
Darah
manusia adalah cairan di dalam tubuh yang berfungsi untuk mengangkut oksigen
yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan
tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung
berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari
berbagai penyakit. Hormon-hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui
darah.Anemia (dalam bahasa Yunani:
Tanpa darah) adalah keadaan saat jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin
(protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (proteinpengangkut
oksigen) dalam sel darah berada dibawah normal
eritrosit, kuantitas hemoglobin, dan volume packed
red blood cell (hematokrit) per 100 ml darah yang disebabkan karenakekurangan zat besi.Nilai normal Hb pada wanita 12-16
gr/dL, pria 14-18 gr/dL ,anak 10-16 gr/dL dan pada bayi baru lahir 12-24gr/dL.
Di dalam darah terdapat beberapa
komponen dan darah terdiri daripada beberapa jenis korpuskula yang membentuk
45% bagian dari darah, angka ini dinyatakan dalam nilai hermatokrit atau volume
sel darah merah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Bagian 55%
yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang
disebut plasma darah.
1.
Korpuskula darah terdiri dari:
a)
Eritrosit
Eritrosit
berasal dari bahasa Yunani, Erythros yang artinya merah dan Kytos
yang artinya seubung. Secara harfiah, eritrosit dapat di artikan sebagai
selubung merah. Sel darah merah ini berbentuk cakram atau lempeng bikonkaf,
gepeng dengan kedua bagian tengahnya cekung tapi tidak berlubang. Diameter sel
sritrosit ini berdiameter 8µm. Ukurannya lebih kecil dari sel-sel tubuh yang
lain. yang memberdakan sel darah merah dengan sel tubuh lainnya adalah bahwa
sel darah merah memiliki masa aktif. Masa aktif sel eritrosit adalah 120 hari
sebelum kemudian di hancurkan. Penghancuran sel darah merah berlangsung di
limfa dan hati.
Pembentukan eritrosit berlangsung di dalam sum-sum
tulang, terutama sum-sum tulang belakang. Sel pembentuk eritrosit adalah hemositoblas
yaitu sel batang myeloid. Setiap harinya ada sekitar 200.000 sel darah merah
yang di bentuk dan di rombak. Proses pembentukan eritrosit disebut eritropoisis. Pembentukan
eritrosit distimulasi oleh hormon eritropoietin (EPO) yang diproduksi
oleh ginjal. Jumlah
eritrosit dalam tubuh manusia berbeda antara masing-masing individu. Jumlah
eritrosit dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
1.
Jenis
Kelamin, manusia laki-laki normal jumlah (konsentrasi)
eritrosit mencapai 5,1 – 5,8 juta per mililiter kubik darah. Sedangkan wanita
normal 4,3 – 5,2 juta per mililiter kubik darah.
2.
Usia, orang
dewasa memiliki jumlah eritrosit lebih banyak dibanding anak-anak.
3.
Tempat
tinggal / ketinggian tempat, orang yang hidup di dataran tinggi
cenderung memiliki jumlah eritrosit lebih banyak dari pada mereka yang tinggal
di dataran rendah.
Kondisi tubuh seseorang, kesehatan yang terganggu seperti luka atau sakit yang
mengeluarkan banyak darah akan menyebabkan jumlah eritrosit dalam darah
berkurang.
b)
Trombosit
Trombosit
(keping darah) adalah sel-sel berbentuk oval kecil yang dibuat di sumsum
tulang. Trombosit membantu dalam proses pembekuan. Ketika pembuluh darah pecah,
trombosit berkumpul di daerah dan membantu menutup kebocoran. Trombosit
bertahan hidup hanya sekitar 9 hari dalam aliran darah dan secara konstan akan
digantikan oleh sel-sel baru.
c)
Leukosit
Leukosit
(sel darah putih) memiliki
fungsi yang sangat penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh kita, Leukosit
mempunyai ciri yang khas yaitu dia tidak berwarna dan dapat bergerak secara
amoebeid, dan juga dapat menembus dinding kapiler/diapedesis. selain itu di
dalam tubuh manusia,sel darah putih ini tidak berasosiasi secara ketat dengan
organ atau jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti
organisme sel tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi
dan menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau mikroorganisme penyusup,
ksrens itu sel darah leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh
jaringan hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai
penyakit infeksi sebagai bagian dari system kekebalan tubuh.
Nilai normalnya :
Bayi baru lahir
|
9000 -30.000 /mm3
|
Bayi/anak
|
9000 – 12.000/mm3
|
Dewasa
|
4000-10.000/mm3
|
d) Plasma Darah
Bagian cairan darah yang membentuk sekitar
5% dari berat badan, merupakan media sirkulasi elemen-elemen darah yang
membentuk sel darah merah, sel darah putih, dan sel pembeku darah juga sebagai
media transportasi bahan organik dan anorganik dari suatu jaringan atau organ.
Pada penyakit ginjal plasma albumin turun sehingga terdapat kebocoran albumin
yang besar melalui glomerulus ginjal. Hampir 90% dari plasma darah terdiri dari
air, di samping itu terdapat pula zat-zat lain yang terlarut di dalamnya.
Anemia adalah istilah yang
menunjukan rendahnya hitungan sel darah merah dan kadar hemoglobin dan
hematokrit di bawah normal (Smeltzer, 2002 : 935). Anemia adalah
berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin
dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 :
256). Dengan demikian anemia bukan merupakan suatu diagnosis atau penyakit,
melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi
tubuh dan perubahan patotisiologis yang mendasar yang diuraikan melalui
anemnesis yang seksama, pemeriksaan fisik dan informasi laboratorium.
Anemia dalam bahasa yunani tanpa darah adalah penyakit kurang darah yang
ditandai dengan kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit) lebih
rendah dibandingkan normal.Jika kadar hemoglobin kurang dari 14g/dl dan
eritrosit kurang dari 41% pada pria , maka pria tersebut dikatakan
anemia. Demikian pula pada wanita , wanita yang memiliki kadar hemoglobin
kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37% , maka wanita itu dikatakan
anemia.Berikut ini katagori tingkat keparahan pada anemia.
1.
Kadar Hb 10 gram- 8 gram disebut
anemia ringan.
2.
Kadar Hb 8 gram -5 gram disebut
anemia saedang.
3.
Kadar Hb kurang dari 5 gram
disebut anemia berat.
Karena hemoglobin terdapat dalam sel darah
merah,setiap ganguan pembentukan sel darah merah baik ukuran maupun
jumlahnya dapat menyebabkan terjadinya anemia. Ganguan tersebut dapat
terjadi ‘’pabrik’’ pembentukan sel (sumsum tulang)maupun ganguan karena
kekurangan komponen penting seperti zat besi, asam folat maupun vitamin B 12. Klasifikasi anemia akibat gangguannya:
1. Anemia
defisiensi Besi :
2. Anemia
Megaloblastik
3. Anemia
Aplastik
4.
Anemia Mieloptisik
Klasifikasi
anemia berdasarkan ukuran selnya:
1. Anemia
mikrositik : penyebab utamanya yaitu defisiensi besi dan talasemia
(gangguan Hb)
2. Anemia
normositik : contohnya yaitu anemia akibat penyakit kronis seperti
gangguan ginjal.
3. Anemia
makrositik : penyebab utama yaitu anemia pernisiosa, anemia akibat konsumsi alcohol, dan anemia megaloblastik.
Anemia
Gizi adalah kekurangan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang di sebabkan
karena kekurangan zat gizi yang di perlukan untuk pembentukan Hb. Anemia
terjadi karena kadar hemoglobin ( Hb) dalam darah merah sangat kurang. Di
Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe)
hingga di sebut Anemia kekurangan Zat besi atau Anemia Gizi Besi.
Anemia merupakan masalah medik yang paling sering di
jumpai di klinik di seluruh dunia, di samping sebagai masalah kesehatan utama
masyarakat, terutama di negara berkembang. Di perkirakan lebih dari 30%
penduduk dunia atau 1500 juta orang menderita anemia dengan sebagian besar
tinggal di daerah tropik. Pada tahun 2002, anemia defisiensi besi di katakan
memiliki faktor konstribusi terpenting untuk beban penyakit global. Salah satu
bentuk anemia yang paling sering di jumpai, terutama di daerah tropis atau di
daerah dunia ketiga, karena sangat berkaitan erat dengan taraf ekonomi, adalah
anemia defisiensi besi, yang akan di bahas mendalam pada tulisan ini.
Anemia ini mengenai lebih dari sepertiga penduduk
dunia yang memberikan dampak kesehatan yang sangat merugikan serta dampak
sosial yang cukup serius.Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul
akibat kosongnya cadangan besi tubuh sehingga penyediaan besi untuk
eritropoesis berkurang, yang pada akhirnya pembentukan hemoglobin
berkurang.Kelainan ini di tandai oleh besi serum menurun, TIBC (total iron
binding capacity) meningkat, saturasi transferin menurun, feritin serum
menurun, pengecatan besi sumsum tulang negatif dan adanya respon terhadap
pengobatan dengan preparat besi.
Seperti yang telah di sajikan di atas, anemia
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mengenai negara-negara kaya maupun
miskin.Meskipun penyebab terbanyak adalah anemia defisiensi besi, tetapi jarang
timbul sebagai penyebab tunggal.Lebih sering timbul bersama-sama dengan
beberapa penyakit, seperti malaria, infeksi parasit, kekurangan gizi dan
hemoglobinopati.Akibat pentingnya penyakit ini, beberapa negara telah menempuh
langkah-langkah untuk mengurangi anemia jenis ini, khususnya pada
kelompok-kelompok masyarakat yang paling rentan dan memiliki efek yang sangat
merugikan, ibu hamil dan anak-anak.Dalam rangka untuk mengetahui hasil dari
langkah intervensi yang diambil tersebut, adekuasi dari strategi yang di
terapkan, dan kemajuan yang telah di capai, informasi tentang prevalensi anemia
harus di dapatkan.
B.
Penyebab Anemia Fe
Penyerapan
zat besi terutama terjadi pada usus halus. Bila tubuh memiliki kelebihan zat
besi, maka penyerapan akan diturunkan. Sebaliknya bila tubuh kekurangan zat
besi, penyerapan dapat ditingkatkan hingga 5 kali lipat. Zat besi dapat
ditemukan pada makanan daging dan sayur-sayuran. Zat besi pada daging lebih
mudah diserap daripada nabati atau yang berasal dari sayuran.
Kekurangan zat besi terjadi saat permintaan zat
besi tidak dapat dicukupi dengan penyerapan zat besi.
Penyebab
anemia defisiensi besi dapat digolongkan dalam 2 besar, yaitu:
1.
Peningkatan kebutuhan
a. Kehamilan: Kekurangan
zat besi pada wanita hamil sering terjadi, karena peningkatan permintaan zat
besi di dalam tubuh. Peningkatan ini dikarenakan jumlah darah meningkat
dan zat besi diperlukan untuk perkembangan janin. Dengan demikian cadangan zat besi
dalam tubuh tidak mencukupi. Pada wanita hamil umumnya diberikan suplemen zat
besi tambahan dengan sebelumnya berkonsultasi dengan dokter.
b. Anak-anak: Pada
anak-anak yang masih dalam pertumbuhan memerlukan zat besi yang lebih tinggi,
terutama pada anak usia balita (dibawah 5 tahun).
2. Berkurangnya asupan atau kehilangan
cadangan
a. Asupan zat besi yang kurang: Tubuh tidak
bisa membuat zat besi dengan sendirinya. Zat besi hanya bisa didapat melalui
makanan. Konsumsi makanan rendah zat besi menyebabkan tubuh menglami
kekurangan. Bebebrapa makanan yang mengandung banyak zat besi yaitu daging,
telur, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan makanan yang ditambahkan zat
besi.
b. Gangguan
penyerapan: Gangguan pada usus halus dapat mempengaruhi penyerapan zat
besi. Seseorang yang menglami operasi pemotongan usus rentan mengalami
kekurangan zat besi.
c. Kehilangan
darah: Kehilangan darah menyebabkan banyak hemoglobin dan zat besi yang
terbuang. Umumnya terjadi perdarahan yang teru menerus dalam jangka waktu laama
(kronis). Perempuan dengan menstruasi yang banyak dan memanjang juga dapat
menyebabkan kekurangan zat besi.
Kekurangan
zat besi lebih sering dialami pada wanita, anak-anak, vegetarian, dan mereka
yang melakukan donor darah rutin. Wanita mengalami menstruasi sehingga berisiko
kekurangan zat besi. Anak-anak rentan karena mereka membutuhkan zat besi untuk
pertumbuhan dan tidak mendapatkan suplai zat besi yang cukup dari ASI (Air Susu
Ibu) atau susu formula. Vegetarian berisiko karena mereka tidak memakan makanan
yang kaya zat besi seperti daging. Donor darah menyebabkan berkurangnya
cadangan zat besi dalam tubuh sehingga memerlukan tambahan suplemen zat besi.
C.
Gejala
yang Timbul
Akibat Anemia Fe
Menurut
Handayani dan Haribowo (2008), gejala anemia dibagi menjadi tiga golongan besar
yaitu sebagai berikut:
1. Gejala Umum anemia
Gejala
anemia disebut juga sebagai sindrom anemia atau Anemic syndrome. Gejala umum
anemia atau sindrom anemia adalah gejala yang timbul pada semua jenis Anemia
pada kadar hemoglobin yang sudah menurun sedemikian rupa dibawah titik
tertentu. Gejala ini timbul karena anoksia organ target dan mekanisme
kompensasi tubuh terhadap penurunan hemoglobin.Gejala-gejala tersebut apabila
diklasifikasikan menurut organ yang terkena adalah:
a. Sistem Kardiovaskuler: lesu,
cepatlelah, palpitasi, takikardi, sesak napas saat beraktivitas, angina
pektoris, dan gagal jantung.
b. Sistem Saraf: sakit kepala, pusing,
telinga mendenging, mata
c. Berkunang-kunang, kelemahan otot,
iritabilitas, lesu, serta perasaan dingin pada ekstremitas.
d. Sistem Urogenital: gangguan haid dan
libido menurun.
e. Epitel: warna pucat pada kulit dan
mukosa, elastisitas kulit menurun, serta rambut tipis dan halus.
2. Gejala Khas Anemia defisiensi besi
Gejala
yang khas dijumpai pada defisiensi besi ,tetapi tidak dijumpai pada anemia
jenis lain :
b. Kolionychia : kuku sendok (spoon
nail), kuku menjadi rapuh , bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung sehingga
mirip seperti sendok.
c. Atrofi papil lidah : permukaan lidah
menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang.
d. Stomatis angularis (cheliosis) :
adanya keradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna
pucat keputihan.
e. Disfagia: nyeri menelan karena
kerusakan epitel hipofaring.
f. Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan
akhloridia.
g. Pica: keinginan untuk memakan bahan
makanan yang tidak lazim, seperti: tanah liat, es,lem, dan lain-lain.
h. Keilosis :bibir pecah-pecah
i.
Glositis :iritasi lidah
Gejala
penyakit dasar yang menjadi penyebab anemia. Gejala ini timbul karena penyakit-penyakit
yang mendasari anemia tersebut.Misalnya anemia defisiensi besi yang disebabkan
oleh infeksi cacing tambang berat akan menimbulkan gejala seperti pembesaran
parotis dan telapak tangan berwarna kuning seperti jerami.
D.
Diet yang Cocok Untuk Penderita Anemia Fe
AGB dapat dicegah dengan menjalani pola makan sehat dan
bervariasi. Pilih bahan pangan yang tinggi akan zat besi, folat, vitamin B12
dan vitamin C. Vitamin B12 bermanfaat untuk melepaskan folat sehingga dapat
membantu pembentukan sel darah merah. Sedangkan vitamin C penting dikonsumsi
penderita anemia defisiensi besi karena dapat membantu penyerapan zat besi.
Selain diet tinggi zat besi, pemulihannya diperlukan tambahan suplemen folat,
vitamin B12 serta zat besi. Pemulihan terapi diet yang disertai pemberian
suplemen penderita anemia defisiensi besi biasanya akan pulih setelah 6 bulan
menjalani terapi.
1. Meningkatkan Konsumsi Makanan
Bergizi.
a. Makan makanan yang banyak mengandung
zat besi dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan
makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).
b. Makan sayur-sayuran dan buah-buahan
yang banyak mengandung vitamin C (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu,
tomat, jeruk dan nanas) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat
besi dalam usus.
2. Menghindari makanan yang menghambat
penyerapan zat besi dalam tubuh
a.
Makanan dengan kandungan kalsium yang tinggi seperti susu dan yogurt,
Daun kemangi, Daun seledri, Daun mint, Cokelat, Kopi, Buah-buah beri seperti
stroberi dan bluberi, Kacang kenari
b.
Daging merah yang tidak
berlemak dalam porsi kecil setidaknya 3-4 kali seminggu
c. Sereal
atau roti gandum yang mengandung zat besi
d. Sayuran hijau segar yang harus dikonsumsi
setiap hari
e. Buah-buahan
segar sehabis makan setiap hari
Nilai
gizi diit TETP
Nilai Gizi
|
TETP I
|
TETP II
|
Energi (kkal)
|
2690
|
3040
|
Protein (g)
|
103
|
120
|
Lemak (g)
|
73
|
98
|
Karbohidrat (g)
|
420
|
420
|
Kalsium (mg)
|
700
|
1400
|
Besi (mg)
|
30,2
|
36
|
Vitamin A (RE)
|
2746
|
2965
|
Tiamin (mg)
|
1,5
|
1,7
|
Vitamin C (mg)
|
114
|
116
|
Bahan Makanan yang
Dianjurkan dan yang Tidak Dianjurkan
Bahan makanan
|
Dianjurkan
|
Tidak Dianjurkan
|
Sumber Karbohidrat
|
Nasi, mie, roti, macaroni, dan hasil
olah tetepung-tepungan lain, seperti cake, tarcis, pudding, dan pastry,
dodol, ubi, karbohidrat sederhana seperti gula pasir.
|
|
Sumber Protein
|
Daging sapi, ayam, ikan, telur, susu,
dan hasil olah seperti keju dan yoghurt custard dan es krim.
|
Dimasak dengan banyak minyak atau
kelapa/ santan kental.
|
Sumber Protein Nabati
|
Semua jenis kacang-kacangan dan hasil
olahanya, seperti tempe, tahu, dan pindakas.
|
Dimasak dengan banyak minyak atau
kelapa/ santan kental.
|
Sayuran
|
Semua jenis sayuran, terutama jenis B,
seperti bayam, buncis, daun singkong, kacang panjang, labu siam dan wortel
direbus, dikukus dan ditumis.
|
Dimasak dengan banyak minyak atau
kelapa/ santan kental.
|
Buah-buahan
|
Semua jenis buah segar, buah kaleng,
buah kering dan jus buah.
|
|
Lemak dan minyak
|
Minyak goring, mentega, margarine, santan
encer, salad dressing.
|
Santan kental
|
Minuman
|
Soft drink, madu, sirup, teh dan
kopi encer.
|
Minuman rendah energy
|
Bumbu
|
Bumbu tidak tajam, seperti bawang
merah, bawang putih, laos, salam, dan kecap.
|
Bumbu yang tajam, seperti cabe dan
merica
|
Contoh Menu Sehari TETP
II
Pagi
|
Siang
|
Malam
|
Nasi
|
Nasi
|
Nasi
|
Telur dadar
|
Ikan
|
Daging empal
|
Daging semur
|
Ayam goring
|
Telur balado
|
Ketimun + tomat iris
|
Tempe bacam
|
Sup sayuran
|
Susu
|
Sayur asam
|
Pisang
|
Papaya
|
||
Pukul 10.00
|
Pukul 16.00
|
Pukul 21.00
|
Bubur kacang hijau
|
Susu
|
Telur ½ masak
|
Susu
|
-
|
Formula komersial
|
E.
Syarat dan Tujuan Diet Anemia Fe
Syarat diet anemia :
1.
Energi sesuai
kebutuhan di berikan 2515,356 kkal
2.
Protein tinggi 1,5
gr/kg BB yaitu sebesar 91,5 gram
3.
Lemak sedang
diberikan 25% yaitu sebesar 69,871 gram
4.
Karbohidrat sesuai
kebutuhan diberikan 380,13 gram
5.
Vitamin dan mineral
terytama pemberian Fe, asam folat, dan vit B12 serta vit C
6.
Pemberian makan di
sesuaikan dengan kebutuhan pasien
Tujuan diet anemia :
1.
Meningkatkan asupan
makanan sumber Fe sehingga tidak terjadi anemia
2.
Mencapai dan
mempertahankan tekanan darah normal
3.
Mencapai dan
mempertahankan BB dan status gizi yang optimal sehingga tidak terjadi
malnutrisi
4.
Memperbaiki pola
makan yang salah
5.
Mengurangi/mencegah
timbulnya faktor resiko lain/penyakit baru pada saat kehamilan/setelah
melahirkan
6.
Memenuhi kebutuhan
energi dan protein yang meningkat untuk mencegah dan mengurangi kerusakan
jaringan tubuh
F. Indikasi
Pemberian Makanan Diet Anemia Fe
Dalam mengobati anemia defisiensi zat besi, dokter
mungkin akan meresepkan multivitamin yang mengandung zat besi.Namun pada
umumnya, asupan makanan yang mengandung zat besi yang disertai istirahat cukup
akan mengembalikan anemia ke kondisi normal.
Berikut adalah beberapa makanan yang kaya akan zat besi:
1. Telur
Telur kaya akan
semua mineral, termasuk besi, dan vitamin B. Telur ideal dikonsumsi saat
sarapan karena mengandung jumlah energi memadai.
2. Kangkung
Kangkung adalah sumber yang sangat baik untuk
vitamin A dan vitamin B serta C. Kangkung mengandung jumlah tinggi zat besi,
kalsium, dan kalium.
3. Kismis, Kismis
mengandung zat besi yang sangat tinggi. Kismis juga merupakan makanan yang
bersifat basa dan dapat membantu mengatasi kondisi asam tubuh.
4. Jagung
Jagung kaya
akan zat besi dan tembaga. Jagung juga menjadi sumber yang baik untuk vitamin A
dan C.
5. Bayam
Selain zat besi, bayam juga mengandung vitamin
A. Bayam harus menjadi bagian diet rutin semua orang.
Tabel
Zat besi dalam makanan:
No.
|
Bahan
Makanan
|
Zat Besi
(mg/100 g)
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
|
Hati
Daging Sapi
Ikan
Telur Ayam
Kacang-kacangan
Tepung Gandum
Sayuran Hijau Daun
Umbi-umbian
Buah-buahan
Beras
Susu Sapi
|
6,0
sampai 14,0
2,0 sampai 4,3
0,5 sampai 1,0
2,0 sampai 3,0
1,9 sampai 14,0
1,5 sampai 7,0
0,4 sampai 18,0
0,3 sampai 2,0
0,2 Sampai 4,0
0,5 sampai 0,8
0,1 sampai 0,4
|
Berikut adalah makanan yang
dilarang bagi penederita anemia yang harus
di ketahui:
1.
Makanan yang mengandung lemak jenuh. Lemak jenuh di bedakan menjadi lemak
jenuh alami seperti daging sapi dan kambing, kulit ayam, dan juga terdapat
dalam produk olahan yang terbuat dari susu, seperti keju, roti dan yogurt. Lemak
jenuh buatan terdapat pada produk olahan makanan yang di goreng atau di bakar
menggunakan minyak nabati, seperti nasi goreng, pisang goreng, ayam bakar, dan
sate.
2.
Makanan yang mengandung lemak trans dan terhidrogenasi.
Lemak trans
adalah lemak yang didapat dengan memadatkan minyak cair dengan gas hidrogen
dalam proses yang disebut dengan hidrogenisasi. Salah satu contoh produk yang
mengalami proses ini yaitu margarin. Jadi semua makanan yang salah satu
bahannya adalah margarin mengandung lemak trans seperti biskuit, kue-kue
kering, kue cake, roti, potato chips, corn chips, pop corn, dan martabak.
3.
Makanan cepat saji terutama makanan yang digoreng, misalnya fried chicken, kentang
goreng dll.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Anemia
adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin (proteinpengangkut oksigen) dalam sel darah berada
dibawah normal eritrosit, kuantitas hemoglobin, dan
volume packed red blood cell
(hematokrit) per 100 ml darah yang
disebabkan karenakekurangan zat besi. Anemia Gizi
adalah kekurangan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah yang di sebabkan karena
kekurangan zat gizi yang di perlukan untuk pembentukan Hb. Anemia terjadi
karena kadar hemoglobin ( Hb) dalam darah merah sangat kurang. Anemia defisiensi besi memberikan dampak buruk bagi
kesehatan masyarakat. Dengan di lakukan pencegahan masyarakat dapat terhindar
dari anemia ini. Apabila sudah terjadi anemia defisiensi besi, maka dapat
melakukan diet kaya akan zat besi, seperti hati, jantung, kuning telur, kerang,
ragi, kacang-kacangan dan buah-buahan kering tertentu yang mengandung kadar zat
besi yang cukup.
B.
Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat
kami harapkan untuk lebih menyempurnakan makalah ini, agar makalah ini dapat
lebih sempurna dan menjadi pedoman untuk kita semua.
Daftar
Pustaka
Soebroto, Ikhsan.2010.Cara
Mudah Mengatasi Problem Anemia.Yogyakarta:
Perdana.
Angela.2013.Anemia Defisiensi Besi.( http://angelangeljs.blogspot.com/2013/05/anemia-defisiensi-besi.html
diakses 20 November 2014).
Sopiandi,Yopi.2013.Makalah Anemia.( http://www.academia.edu/7191273/makalah_anemia,
diakses
5 November 2014).
Uphe,Ulfah,.2013.Anemia Defisiensi Besi.(http://www.kerjanya.net/faq/4477-anemia-defisiensi-besi.html, diakses 6 November 2014)
please izin copy
BalasHapusIZIN COPY YAH :)
BalasHapusIjin copy
BalasHapusijin spam
BalasHapus